KAKAK VS UTSMAN

KAKAK VS UTSMAN
06:27 February, 14, 2017 . by umi khamdanah

Hai namaku Ana. Jamannya masih jahiliyah dulu, Ana punya mantan. Ada dua orang yang Ana sebut mantan. Yang satu orang Panjang, satunya lagi orang Kajen. Mantan itu nyebelin ya. Didekati bukannya menyambut dengan ceria, malah nyepelein, ngrendahin, nyuekin dan bikin gemesss. Suatu saat kalau Ana sukses, bakalan Ana tunjukin siapa aku ini. Mereka berdua yang pernah nyepelein Ana, akan Ana tunjukin kalau Ana adalah calon istri yang baik, berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Itulah hari kemenangan Ana. (Hehehehe... Ana PD banget).   

Mantan pertama. Orang Panjang. Ana memanggilnya kakak. Sampai sekarang pun Ana masih memanggilnya kakak. Dulu pertama kenal, dia tidak mau dipanggil mas. Katanya mas itu terlalu berharga. Dia mau dipanggil mas kalau sudah menikah. Awalnya Ana dikenalin sama bibi. Katanya dia itu orangnya baik dan agamanya bagus. Makanya dulu Ana percaya saja karena yang ngenalin keluarga dekat.  

Sudah dua tahun kami tidak bertemu. Biasalah, tidak cocok. Ana sendiri sudah males dengan dia. Ana mau tobat. Pacaran seperti anak SMP, padahal waktu itu Ana berumur 27 tahun dan dia berumur 35 tahun.  Kluyuran gak jelas, ngobrol gak penting dan buang-buang waktu. Ana gak betah. Apalagi orangnya galak. Ana pinginnya PDKT di rumah, diawasi orang tua.

Ana heran sama kakak. Dari sisi religiusnya bagus tapi kenapa dia temperamental. Kalau marah keluar semua hewan berkaki empat dari mulutnya. Kalau Ana gak nurut, kakak ngancam-ngancam gak jelas. Helm jatuh pun dia langsung memuncak amarahnya. Dulu sering banget Ana minta putus dan bertengkar tapi kakak memohon jangan diputusin.

Kakak ini punya peraturan ketat banget. Kalau sholat harus tepat waktu. Jika Ana ketahuan belum sholat Ashar sebelum jam 16.00 WIB, kakak bakalan marah besar. Jangan dekat-dekat dengan cowok lain selama masih jalan sama kakak. Bayangin, kalau ketahuan ada teman cowok mengantar majalah langganan Ana ke rumah pun dia larang. Kalau janjian harus on time. Kalau Ana telat sedikit, kakak bakal uring-uringan sendiri. Ana dilarang berkunjung ke rumahnya di Panjang, padahal Ana pingin banget mengenal keluarganya. Kakak juga tidak mau berkunjung ke rumah Ana.

Kakak terakhir SMS beberapa bulan lalu. Padahal nomor Hp sudah Ana ganti. Saya tidak tahu dari mana dia mendapatkan nomor itu. Dia menanyakan kabar Ana. Dia masih tetap tidak mau datang ke rumah Ana. Dia mengajak bertemu di luar, tetapi Ana takut. Takut dimarahi seperti dulu. Takut ketularan sifat buruknya.

Mantan ke dua namanya Utsman. Ana memanggilnya mas Man. Ana sudah mengenalnya sejak tahun 2012. Dulu dia sering datang ke tetangga belakang Ana untuk membeli sayur. Setahuku waktu itu dia adalah pedagang sayur. Saya mencari informasi tentang mas Man ini dari Diba si empunya kebun sayur. Suatu ketika saya dikenalkan kepada mas Man oleh Diba. Mas Man ini aslinya orang Kajen. Dia mempunyai bibi di daerah dekat kampung saya.

Lama-lama kami mengenal satu sama lain, bertukar nomor Hp. Dia saya dekati setelah saya bubar dengan kakak. Ujung-ujungnya Ana suka kepribadiannya dan lagi-lagi bagus dari sisi religiusnya. Tapi lama-kelamaan ada beberapa hal yang tidak Ana sukai dari mas Man ini. Orangnya tertutup, susah kalau ditanya kegiatan sehari-harinya. PDKT tidak jelas dan harus keluar dari rumah. Paling males kalau PDKT ke luar rumah. Pasti banyak tuntutan.

Mas Man ini juga sukanya membandingkan Ana dengan mantannya. Katanya Ana kurang tulus mendekatinya, kurang menunjukkan kasih sayang, tidak membuat mas Man bahagia dan kurang dermawan. Secara gaji mantannya delapan kali lipat gaji Ana, masa Ana kudu niru mantannya. Harus ngasih pulsa tiap pulsa mas Man habis, membelikan jaket, baju, jajan, Handphone dan lain-lain. Ana sendiri masih ada kebutuhan yang lebih penting, masih ada orang tua dan adik yang masih kuliah. Mending ngasih kepada orang-orang yang dekat dengan kita, yang benar-benar membutuhkan dan tulus menyayangi kita daripada dikasih orang yang belum jelas.

Ana gak betah, dan saya putuskan mulai saat itu tidak akan pacaran lagi. Tobat. Saya diamkan mereka berdua walaupun mereka masih mau berminat menghubungi saya lewat Hp. Ana diamkan saja tuh.... si kakak yang sudah tahu nomor Hp Ana. Mas Man juga saya diamkan yang tidak tahu nomor baru Ana. Sebenarnya Ana juga menuntut mereka agar sesuai dengan keinginan Ana tapi tidak berlebih-lebihan seperti mereka, misalnya menjadi orang yang lebih baik kualitasnya. Ana tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan mereka dan tidak meminta materi sandang pangan papan. Tapi kalau sudah nuntut-nuntut jadi maleeessss mau balik lagi. Berdoa saja deh minta sama Allah yang terbaik dan datang sendiri ke rumah. Hehehe.

Anda harus daftar/login Terlebih dahulu untuk memberikan komentar disini